Tuesday , November 13 2018
Home / Berita / 25 MW Pembangkit Hijau Akan Dibangun di Pulau Sumba

25 MW Pembangkit Hijau Akan Dibangun di Pulau Sumba

Suaracargo.com, JAKARTA — Sejumlah proyek pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan akan dikembangkan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur untuk mendorong percepatan program Sumba Iconic Island for Renewable Energy.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Ditjen Energi Baru Terbarukan, Kementerian ESDM Harris menyebutkan, setidaknya ada sejumlah proyek dengan total kapasitas 25 megawatt (MW) direncanakan dikembangkan di Sumba.

“Kemarin PLN lihat ada sekitar 25 MW yang berencana masuk ke Sumba Iconic Island. Namun, memang prosesnya masih macam-macam, ada yang baru mau bikin FS [feasibility study/studi kelayakan], dan lain-lain,” ujar Harris, Selasa (6/11).

Harris menuturkan, total proyek pembangkit 25 MW tersebut terdiri atas berbagai macam jenis pembangkit hijau, mulai dari pembangkit tenaga angin/bayu (PLTB), pembangkit tenaga surya (PLTS), dan pembangkit tenaga air (PLTA).

Salah satu proyek pembangkit energi terbarukan yang siap dikembangkan adalah proyek PLTB 3 MW di Kadumbul, Sumba Timur yang dikembangkan PT Hywind. PT Hywind, kata Harris, saat ini sedang menunggu daftar penyedia terseleksi (DPT) dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Selain mengembangkan PLTB, Hywind sudah lebih dulu membuat proyek percontohan pembangkit campuran yang terdiri atas 1 kW PLTS, 1 kW PLTB, dan baterai penyimpanan di NTT.

Meski banyak pengembang berminat, pengembangan pembangkit energi terbarukan di Sumba belum bisa dikembangkan secara masif. Hal ini disebabkan permintaan kebutuhan listrik di wilayah tersebut masih rendah.

“Kalau mau masuk 25 MW semua tidak bisa dibeli PLN. Jadi, tetap akan bertahap masuknya. Karena di Sumba itu kalau malam permintaannya sekitar 2 MW. Jadi, tidak bisa masuk.”

Oleh karena itu, untuk mempercepat penetrasi energi terbarukan di Sumba, diusulkan agar pembangunan pembangkit dilakukan menggunakan skema off-grid atau tidak tersambung ke jaringan PLN.

Walaupun dengan skema off-grid, pengembang listrik akan tetap berkontrak dengan PLN karena wilayah tersebut masuk dalam area distribusi PLN.

Harris menjelaskan, dengan skema off-grid, pengembang membangun pembangkit sekaligus dengan jaringannya. Nantinya masyarakat tetap akan dikenai biaya sesuai dengan tarif dasar listrik PLN, sedangkan PLN akan membeli listrik pengembang sesuai dengan biaya pokok produksi wilayah tersebut.

Dia menuturkan, PLN wilayah NTT telah bersedia menggunakan skema tersebut. “Secara prinsip mau kerja sama, tapi tentunya harus di dukung dengan regulasi,” katanya.

Sementara itu, dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Direktur Utama PT Hywind Chandra Soemitro mengungkapkan bahwa saat ini studi kelayakan dan studi interkoneksi grid proyek PLTB Kadumbul telah selesai. PLTB tersebut rencananya akan menggunakan skema on-grid (terhubung ke dalam jaringan listrik PLN).

Selanjutnya, Hywind dengan PLN wilayah NTT akan menyiapkan proses pengadaan proyek tersebut. Selain menyiapkan pengadaan, Hywind juga telah menjalankan pelatihan dan sosialisasi dengan warga setempat.

Selain PLTB yang dikembangkan Hywind, proyek lainnya, yaitu PLTBm Bodo Hula, Sumba Barat 1 MW yang dikembangkan oleh PT Sumbar Dharma. Saat ini, proyek PLTBm tersebut telah melakukan uji beban sebanyak 3 kali. (Denis Riantiza M.)

Facebook Comments

About N

Check Also

Selama Oktober, OTP Garuda Indonesia Tembus 5 Besar Dunia

Suaracargo.com, JAKARTA — Maskapai layanan penuh (full service airlines/FSA) Garuda Indonesia menjadi satu-satunya maskapai di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *