Monday , September 16 2019
Home / Berita / Jelang Mudik Lebaran, MTI : Jalan Nontol Malah Kurang Perhatian

Jelang Mudik Lebaran, MTI : Jalan Nontol Malah Kurang Perhatian

Suaracargo.com, JAKARTA – Menjelang arus mudik Lebaran 2019, sejumlah jalan nasional perlu dipersiapkan guna mengurangi risiko kecelakaan dan kemacetan.

Pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno meminta pemerintah tidak lengah dengan kehadiran tol dan harus memperhatikan jalur nontol.

“Belajar dari kasus jalan nontol Jakarta–Cikampek dapat dikatakan jarang digunakan perjalanan jarak jauh setelah hadir Tol Jakarta–Cikampek. Jalan nontol juga harus dirawat seperti tahun-tahun sebelumnya, hal yang sama juga berlaku untuk jalan provinsi dan jalan kabupaten atau kota,” Minggu (12/5/2019).

Dia menuturkan, peru kecukupan rambu, marka, penerangan jalan umum dan alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) harus diperhatikan. Pemudik pasti akan menggunakan jalan nontol untuk tiba di tempat tujuannya.

Belum lagi, lanjutnya, pemudik bermotor yang rentan kecelakaan untuk jarak jauh. Dia mewanti-wanti agar tidak terjadi kecelakaan karena jalannya masih banyak yang berlubang. Selain itu, waktu istirahat juga harus diperhatikan dengan cermat oleh pemudik roda dua.

“Perlintasan sebidang kereta api dengan jalan raya masih rawan kecelakaan, utamanya yang berlintas dengan jalan desa atau kabupaten. Tidak terjaga, entah resmi atau lintas, biasanya yang kerap jadi korban adalah yang jarang melintas,” katanya.

Dia menilai, pemerintah daerah (pemda) perlu menambah penjagaan terhadap perlintasan yang selama ini tidak terjaga dengan melibatkan masyarakat sekitar. Kelengkapan rambu dan marka harus dapat perhatian.

“Pasar tumpah bisa jadi biang kemacetan, terutama pasar tumpah yang berada bersisian dengan jalan raya. Ada penanganan khusus terhadap keberadaan pasar ini, meskipun dalam beberapa tahun terakhir sistem pencegahan kemacetan di beberapa pasar tumpah sudah lebih baik,” katanya.

Pria asal Semarang ini menjelaskan masih dibutuhkan angkutan lanjutan pada simpul transportasi, seperti terminal dan stasiun. Menurutnya, ini terjadi karena buruknya penyelenggaraan angkutan umum di daerah yang jadi penyebabnya.

“Beda halnya jika pemudik balik ke Jakarta. Tiba di Terminal Pulo Gebang, Stasiun Pasar Senen, Stasjun Gambir atau Stasiun Jatinegara, sudah banyak pilihan angkutan lanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, angkutan lanjutan di daerah masih minim. Akibatnya, pemudik harus menambah biaya yang terkadang lebih besar dari ongkos perjalanan jauhnya daripada angkutan lanjutan.

Setelah terhubung dengan Tol Trans-Jawa dari Merak hingga Probolinggo, bercabang ke Malang dan jaringan tol di Sumatra, jalur tol menjadi primadona yang ingin segera dijajaki oleh pemudik tahun ini.

Ruas tol Trans-Sumatra yang difungsikan yakni tol Bakauheni-Terbanggi-Palembang, ruas tol Bakauheni-Terbanggi Besar sejauh 168 km yang sudah berbayar. Sementara itu, ruas tol Terbanggi Besar-Palembang hanya bisa beroperasi fungsional.

“Lumayan bagi pemudik yang akan menuju Palembang bila selama ini menggunakan jalan lintas timur Sumatera bisa ditempuh hingga 12 jam, nanti menggunakan tol tersebut dicapai sekitar 5–6 jam. Belum lagi lewat lintas timur di beberapa ruas masih rawan keamanan, semoga jika melewati tol ini ada jaminan keamanan,” katanya.

Facebook Comments

About N

Check Also

Aturan Baru, Berikut Mekanisme Pemanfaatan BMN Hulu Migas Eks Terminasi

Suaracargo.com,¬†JAKARTA – Pemerintah memberikan kepastian terkait dengan pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) eks terminasi atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *