Saturday , February 16 2019
Home / Bisnis / Produksi Karet Alam Diperkirakan Stagnan

Produksi Karet Alam Diperkirakan Stagnan

Suaracargo.com, JAKARTA – Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) mengestimasi produksi karet alam tahun ini tidak akan jauh berbeda dari hasil produksi 2018 yang berkisar 3,67 juta ton.

Sekretaris Jenderal Gapkindo Erwin Tunas mengatakan, pasar karet berpotensi mendekati titik keseimbangan antara permintaan dan produksinya pada tahun ini.

Pasalnya, produksi karet alam diprediksi tidak akan mengalami pertumbuhan berarti pada tahun depan, begitupula dengan konsumsinya.

“[Pasalnya] 2019, kalau kita lihat keseimbangan antara pasokan dan permintaan sudah mendekati perimbangan sebetulnya, tidak lagi terjadi surlus berlebihan,” kata ketika dihubungi Bisnis, Senin (14/1).

Dia menambahkan, estimasi produksi karet memerlukan perhitungan dan peninjauan terkait efek pelemahan harga, penyusutan lahan, dan juga efek munculnya penyakit atau jamur fusicoccum beberapa waktu lalu.

Adapun, pihaknya masih perlu melakukan evaluasi terkait sejauh apa dampak jamur fusicoccum tahun lalu. Kendati demikian, serangan bakteri tersebut dinilai tidak terlalu berdampak signifikan pada 2018.

Untuk tahun inipun, pihaknya belum bisa memprediksi kerugian yang berpotensi timbul akibat jamur tersebut.

“Kalau harga seperti ini memang untuk 2019 pun sulit diperkirakan ada peningkatan produksi. Saya kira baru Maret kita ngomong [soal perkiraan produksi] 2019,” katanya

Dia menambahkan, kondisi harga karet yang mengalami pelemahan akhir-akhir ini membuat sejumlah petani urung melakukan penyadapan.

Bahkan, di sejumlah daerah seperti di Sumatra Utara, petani memutuskan untuk membabat pohon karetnya dan melakukan alih fungsi lahan ke tanaman atau peruntukan lain.

Oleh karena itu, pihaknya memprediksi produksi karet sepanjang tahun depan tak akan bergerak jauh dari angka produksi karet sepanjang 2018 yang diestimasi mencapai 3,674 juta ton.

Di sisi lain, Erwin juga meyakini pertumbuhan permintaan karet tidak akan bergerak banyak tanpa adanya stimulus atau terciptanya kebutuhan baru.

Menurutnya, dengan bergantung pada permintaan dari industri konvensional seperti ban, vulkanisir, dan sarung tangan, potensi pertumbuhan permintaan hanya akan mencapai 4%-5%.

Gapkindo mengestimasi total permintaan karet dalam negeri sepanjang tahun lalu mencapai 629.800 ton atau meningkat 4,8% dibandingkan konsumsi tahun sebelumnya yakni sebesar 629.800.

Adapun, volume ekspornya mencapai 2,99 juta ton (US$4,22 miliar) pada 2018 atau menurun sebesar 8,75% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 3,277 juta ton (US$5,59 miliar).

Facebook Comments

About N

Check Also

Pembangkit Kedua PLTU Cirebon Dijadwalkan Beroperasi 2022

Suaracargo.com, JAKARTA — Perusahaan pembangkit listrik Cirebon Power tengah membangun PLTU Cireboh tahap II dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *